PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau, Target Seluruh Desa Teraliri Listrik

PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau, Target Seluruh Desa Teraliri Listrik

285
0
PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau, Target Seluruh Seluruh Desa Teraliri Listrik
PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau, Target Seluruh Seluruh Desa Teraliri Listrik

[ad_1]

Berita Riau Niaga, PEKANBARU – RIAU masih kekurangan pasokan listrik. Program Presiden RI Joko Widodo yang akan menjadikan Sumatera Terang dengan memberikan jatah sebesar 9.000 megawatt (MW) itu akan memberikan keuntungan yang sangat baik bagi Riau. Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan berusaha mewujudkan Riau Terang di 2019 mendatang.

Jasa Pembuatan Web Murah
Miliki website profesional untuk bisnis anda, Mobile & SEO Friendly
http://riauwebdesign.com

Informasi & Peluang Bisnis UKM Riau
Info Peluang Usaha & Promosi Usaha UKM, Iklankan Usaha anda di UKM Riau, Tertarget!
http://ukmriau.com

Situs Iklan Gratis Pekanbaru
Pasang Iklan Usaha anda saat ini juga di riauniaga.com, GRATIS 100%
http://raiuniaga.com

Belajar Bisnis Internet Gratis
Anda ingin mendapatkan penghasilan dari internet? mari belajar bersama kami...
http://fullblogging.com

Ads by Berita Riau Niaga

Saat ini PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (WRKR) sedang menggesa pembangunan jalur transmisi agar seluruh daerah di Riau bisa dijangkau listrik. Sampai Oktober tahun ini, jumlah pelanggan PLN di Riau mencapai 1.421.400 pelanggan dari jumlah penduduk 5,8 juta jiwa.

General Manager PLN WRKR Febi Joko Priharto didampingi Manajer SDM dan Umum Dwi Suryo Abdullah mengatakan, jika sembilan jalur transmisi yang mereka bangun di Riau selesai, maka itu akan mendukung mewujudkan Riau Terang.

‘’Rencana jalur transmisi yang sedang dikerjakan ini selesai 2019. Saat itu kami berharap seluruh desa di Riau sudah terjangkau listrik. Sehingga rasio elektrifikasi mencapai 90 persen lebih. Kami berharap bisa 100 persen, tapi tentunya ini tergantung pertumbuhan penduduk dan pemasangan baru,’’ kata Febi.

Disebutkan Febi, jika penganggaran dari Penyertaan Modal Negara (PMN) berjalan lancar di Senayan, maka hal itu juga akan mendukung investasi di bidang kelistrikan. Menurut Febi, semua daerah di Sumatera dari Aceh sampai ke Lampung juga menggesa pembangunan di bidang kelistrikan sehingga bisa mewujudkan Sumatera Terang di 2019 mendatang.

‘’Di Riau, kami berusaha menyelesaikan semua pekerjaan. Sehingga semua desa bisa teraliri listrik. Di provinsi lain juga bekerja demikian, jadi nanti serentak sehingga Sumatera Terang itu bisa terwujud,’’ sebut Febi.

Untuk mencapai daerah yang selama ini terisolasi atau tidak terjangkau jaringan interkoneksi seluruh Sumatera, maka akan dibangun kabel bawah laut.

‘’Untuk isolated seperti Kepulauan Meranti, nanti akan dibangun kabel bawah laut,’’ kata Febi.

Ditambahkan Dwi, percepatan pembangunan itu dari jalur transmisi dimulai dengan proses perizinan. ‘’Tentunya rencana mewujudkan Riau Terang ini perlu sosialisasi dan dukungan semua pihak. Mulai dari pemerintah maupun masyarakat. Pembebasan lahan sangat tergantung pada masyarakat,’’ kata Dwi.

Menurut Dwi, mereka bekerja sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dan Rencana Jangka Panjang Perusahaan. Nantinya ketersambungan listrik ke rumah-rumah pelanggan atau masyarakat akan semakin tinggi. Saat ini masih ada rasio elektrifikasi yang di bawah 50 persen, namun ada juga yang tinggi seperti area Pekanbaru, rasio elektrifikasi sudah mencapai 80,65 persen. Sementara rasio elektrifikasi Rokan Hulu masih 49,71 persen sedangkan Pelalawan masih 48,8 persen. ‘’Upaya untuk menaikkan rasio elektrifikasi itu adalah penyelesaian trasmisi. Jadi itu yang sedang kami lakukan saat ini,’’ kata Dwi.

Menurut Dwi, sinergi antara pemerintah daerah sangat penting. PLN sudah bekerja sama dengan Kejaksaan Tinggi Riau dan Kejaksaan Negeri di seluruh Riau. Dan membentuk tim dalam mengawal dan mengamankan percepatan pembangunan daerah. “Dengan tim ini, pemerintah daerah mendukung dan memfasilitasi perizinan maupun penyelesaian masalah sosial yang timbul akibat proses pembebasan lahan dan kompensasi jalur transmisi,’’ sebut Dwi.

Menurut Dwi, saat bicara Riau, kondisi rasio elektrifikasi yang menjadi target di 2016 yaitu 76,5 persen. Sementara saat ini masih di posisi 74,32. ‘’Tentunya dengan percepatan dan kerja sama maka target itu bisa tercapai,’’ kata Dwi.

Untuk mendistribusikan listrik lebih baik dan bisa menjangkau daerah lebih luas, PLN membangun ribuan tapak tower untuk saluran transmisi listrik di Riau. Untuk itu, PLN meminta kerja sama seluruh pihak dalam penyediaan lahan untuk tapak tower yang akan mereka dirikan. Satu tapak tower untuk Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) seluas 14 x 14 meter sampai 20 x 20 meter tergantung kondisi tanah dan tipe tower. Sedangkan untuk Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) memerlukan tapak tower seluas 20 x 20 sampai 30 x 30 meter.

PLN memberikan penggantian yang wajar untuk seluruh tapak tower yang mereka pakai kepada pemilik lahan. Nilai rupiah yang diberikan untuk ukuran tapak tower tersebut sesuai dengan nilai pasar ditambah penggantian non fisik. Menurutnya, penggantian harga yang mereka berikan tidak sesuai Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lagi, tapi lebih besar.

Penggantian di atas harga NJOP. PLN memberikan penggantian yang wajar dan bukan merugikan pemilik lahan.

PLN sedang membangun sembilan jalur transmisi di Riau yang harus selesai paling lambat Desember 2016. Kesembilan jalur transmisi itu adalah, pertama jalur PLTU Tenayan Raya ke gardu induk Pasir Putih. Di jalur ini ada 61 tapak tower. Semua pengadaan lahan untuk tapak tower di jalur ini sudah selesai. Saat ini petugas sedang melakukan peregangan kabel dari tower ke tower atau stringing.

Kedua, jalur gardu induk Pasir Putih ke gardu induk Pangkalankerinci. Di jalur ini ada 130 tapak tower. Ketiga, gardu induk Garuda Sakti ke gardu induk Pasir Putih. Di jalur ini ada 109 tapak tower. Keempat, gardu induk Bangkinang ke Pasirpengaraian. Di jalur ini ada 442 tapak tower. Kelima, jalur SUTET dari Garuda Sakti ke Payakumbuh. Di jalur ini ada 240 tower. Rencananya juga diperpanjang sampai ke gardu induk Perawang yang diperkirakan ada penambahan tapak sekitar 98 tapak tower. Keenam, dari Rengat ke Telukkuantan. Di jalur ini ada 399 tapak tower. Ketujuh, Dumai ke Bagan Siapiapi. Di jalur ini ada 324 tapak tower.

#Rekomendasi :   IPDN Rohil, Suai di Banjar xii

Kedelapan, dari Dumai ke Kawasan Industri Dumai. Di jalur ini ada 97 tapak tower. Kesembilan dari Rengat ke Tembilahan. Di jalur ini ada 378 tapak tower.

Perlu 19 Gardu Induk

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Riau Syahrial Abdi mengatakan ada perbedaan pemikiran, antara memenuhi keperluan dan aksesibilitas listrik di Riau. Asumsi awalnya memperbanyak pembangkit. Menurutnya itu tak salah, cuma bukan solusi. Salah satu jadi permasalahan elektrifikasi di Riau menurut dia adalah minimnya gardu induk dalam mendistribusikan listrik ke masyarakat. Menurutnya Riau perlu sekitar 19 gardu induk.

“Saat ini baru adalah delapan gardu induk,” ujar Syahrial Abdi kepada Riau Pos beberapa waktu lalu.

Dikatakannya, keberadaan delapan gardu induk tidak mencukupi, meskipun Riau punya 2×110 PLTU Tenayan Raya yang bakal beroperasi sebagai tambahan. Namun kalaupun beroperasi, itu tidak serta merta dinikmati masyarakat Riau seutuhnya. “Itu masuk interkoneksi Sumatera. Jadi menyuplai daya ke sistem Sumatera. Artinya seluruh Sumatera bisa menikmati itu, bukan Riau saja,” jelasnya.

Atas defisit yang terjadi lanjutnya memang Riau masuk dalam sistem interkoneksi Sumbagteng. Sehingga kekurangan daya selama ini bisa ditutupi. Kemudian dengan PLTU juga maka menambah daya ke sistem Sumatera. Lebih lanjut dikatakan Syahrial Abdi, cara agar mudah menikmati pasokan Tenayan Raya, adalah memperbanyak gardu induk sebagai jaringan transmisi dan distribusi.

“Melalui gardulah yang akan mencapai ke masyarakat. Kalau 19 gardu induk dibuat maka akan sampai pada angka ideal,” tambahnya.

Terkait Sumatra Terang dengan tambahan pasokan 9.000 MW termasuk untuk Riau, diakuinya yang jadi persoalan adalah tapak tower. Misalnya pembangkit yang dibangun di PLTU Tenayan Raya yang perlu ditransmisikan ke gardu induk. Kemudian masuk jaring distribusi ke akses yang memerlukan listrik. Kendala pembangunan gardu induk diakui Kadis ESDM tidak terlalu bermasalah. Karena menggunakan satu tempat dengan jumlah luasan tertentu, di mana biasanya tak lebih 2 hektare.

“Tapi kalau membangun jaringan distribusi, terutama bagian program 35 ribu MW, harus membangun jaringan di atas 500 KV. Kemudian transmisi dan distribusi ke lebih rendah seperti 275 KV, 150 KV. Ini yang melintasi hak-hak perdata, karena berkaitan dengan sawit, tanah perorangan, memang ketentuannya harus dibebaskan,” paparnya. Disinggung mengenai distribusi 9000 MW untuk Riau di daerah mana saja, menurut Syahrial pada prinsipnya daya apapun yang bisa dibangkitkan. Itu masuk interkoneksi Sumatera.

Penambahan gardu induk di Riau direncanakan pada 2017 di wilayah Inhil, Perawang, dan Rohil. Sehingga diharapkan dapat menyuplai daya ke wilayah tersebut. Seperti sebagian Kuansing dijelaskan Syahrial kenapa elektrifikasi tinggi sebab disuplai dari Sumbar.

“Harus dilakukan bersama PLN sehingga bisa menyelesaikan gardu induk dan tersebar di seluruh Riau. RUPTL PLN sepenuhnya dilakukan PLN. Kami mendukung dan juga mohon dukungan semua pihak,” harapnya.

Ambil Program Sumatera Terang
Sekretaris Komisis D DPRD Riau Asri Auzar meminta Pemprov Riau serius dalam mengambil bagian dalam program 9.000 MW Sumatera Terang yang dicanangkan pemerintah pusat. Sebab listrik menjadi syarat utama agar investasi tumbuh lebih baik di Bumi Lancang Kuning.  “Ya, kami minta Pemprov serius ambil bagian. Karena listrik ini penting untuk investasi,” ujarnya kepada Riau Pos, Senin (10/10).

Riau kata Asri Auzar, masih defisit listrik. Ini terbukti masih seringnya pemadaman bergilir di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini. Terutama saat musim kemarau ketika debit air di waduk PLTA Koto Panjang menyusut. Bahkan sekarang sudah mulai kering, di mana tiga turbin dari PLTA ini tak lagi bisa beroperasi.  “Kita ini masih byar pet. Kan lucu, energi di bumi kita melimpah, tapi listrik hidup mati terus. Pokoknya bagaimanapun caranya Pemprov harus serius mengambil ini,” terangnya.

Bukti keseriusan itu kata Asri harus ditujukan Pemprov dengan segera membentuk tim. Tim ini harus diisi orang-orang yang berkompeten agar program itu bisa didapatkan Riau.

“Bentuk tim segera untuk ambil itu. Dapat 1.000 kan lumayan,“ ujarnya.(rul/egp/dik/ted)

[ad_2]

Visit web sumber : KLIK DISINI

SILAHKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.