Plt GUBRI Hadiri Acara Bakar Tongkang

Plt GUBRI Hadiri Acara Bakar Tongkang

506
0

bakar tongkang lagi

BAGANSIAPIAPI – Warga etnis Tionghoa dari berbagai daerah bahkan mancanegara berdatangan menyaksikan ritual Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Rokan Hilir, Kamis (2/7/2015). Plt Gubernur [tooltip id=”92ba60178ace52ea3601ff3311e85d8d”]Riau Arsyadjuliandi Rachman ikut mengarak replika tongkang yang kemudian dibakar.

Jasa Pembuatan Web Murah
Miliki website profesional untuk bisnis anda, Mobile & SEO Friendly
http://riauwebdesign.com

Informasi & Peluang Bisnis UKM Riau
Info Peluang Usaha & Promosi Usaha UKM, Iklankan Usaha anda di UKM Riau, Tertarget!
http://ukmriau.com

Situs Iklan Gratis Pekanbaru
Pasang Iklan Usaha anda saat ini juga di riauniaga.com, GRATIS 100%
http://raiuniaga.com

Belajar Bisnis Internet Gratis
Anda ingin mendapatkan penghasilan dari internet? mari belajar bersama kami...
http://fullblogging.com

Ads by Berita Riau Niaga

Plt Gubri, Bupati Rohil Suyatno, Danrem 031/WB Brigjen TNI Nurendi dan Kapolda [tooltip id=”92ba60178ace52ea3601ff3311e85d8d”]Riau Brigjen Pol Bambang Dolly ikut mengarak replika tongkang tersebut.

Festival Bakar Tongkang merupakan acara tahunan terbesar di [tooltip id=”92ba60178ace52ea3601ff3311e85d8d”]Riau.  Festival ini dilakukan oleh masyarakat Tionghoa di Riau untuk memperingati kehadiran masyarakat Tionghoa ke tanah Bagansiapiapi tahun 1820.
Tongkang diarak dari sebuah klenteng yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari tempat pembakaran. Selain mengarak tongkang, masyarakat Tionghoa juga mengarak berbagai ornamen kepercayaan mereka dan pawai budaya.

Ritual Bakar Tongkang bertujuan untuk mengenang para leluhur orang Tionghoa dalam menemukan Bagansiapiapi dan sebagai wujud syukur kepada Dewa Ki Hu Ong Ya. Ritual ini diadakan tanggal 16 bulan kelima penanggalan Lunar (Imlek) setiap tahunnya.

Pembakaran tongkang menandakan tekad mereka untuk tidak kembali ke tanah leluhur dan mengembangkan diri di Bagansiapiapi. Ritual ini telah diselenggarakan di Kota Ikan (Bagansiapiapi) sejak tahun 1878, atau sudah berlangsung sejak 134 tahun silam. Pada zaman orba sempat dilarang tetapi kemudian diaktifkan kembali di era Gus Dur.***dd/rd[tooltip type=”box” html=”Riau” box_background_color=”#eeeeee” box_opacity=”0.95″ box_padding=”10″ box_border_color=”#3F3F3F” box_border_width=”1″ box_border_radius=”0″ id=”92ba60178ace52ea3601ff3311e85d8d” /]