Berhujjah dengan hadits Dhoif, Apakah Diperbolehkan ?

    110
    0
    banner-riauniaga-fb

    Apakah Boleh Berhujjah dengan hadits Dhoif ?[tooltip id=”4a37031aeb58ce2f356b569b3bd618fb”][tooltip id=”8e12b236ba2d80140b311f3d65fce0e3″] tentang hal ini yaitu berhujjah dengan Hadist Dhoif atau Hadits lemah, para ulama terbagi dua dalam perpendapat. Ada yang membolehkan dan ada juga yang dilarang.

    Para ulama sepakat melarang meriwayatkan hadits dhoif yang maudhu’ tanpa menyebutkan kemaudhu’annya. Adapun kalau hadits dhoif itu bukan hadits maudhu’ maka diperselisihkan tentang boleh atau tidaknya diriwayatkan untuk berhujjah. Berikut ini pendapat yang ada yaitu:

    Jasa Pembuatan Web Murah
    Miliki website profesional untuk bisnis anda, Mobile & SEO Friendly
    http://riauwebdesign.com

    Informasi & Peluang Bisnis UKM Riau
    Info Peluang Usaha & Promosi Usaha UKM, Iklankan Usaha anda di UKM Riau, Tertarget!
    http://ukmriau.com

    Situs Iklan Gratis Pekanbaru
    Pasang Iklan Usaha anda saat ini juga di riauniaga.com, GRATIS 100%
    http://raiuniaga.com

    Belajar Bisnis Internet Gratis
    Anda ingin mendapatkan penghasilan dari internet? mari belajar bersama kami...
    http://fullblogging.com

    Ads by Berita Riau Niaga

    Pendapat Pertama Melarang secara mutlak meriwayatkan segala macam hadits dhoif, baik untuk menetapkan hukum, maupun untuk memberi sugesti amalan utama. Pendapat ini dipertahankan oleh Abu Bakar Ibnul ‘Araby.

    Pendapat Kedua[tooltip id=”4a37031aeb58ce2f356b569b3bd618fb”][tooltip id=”8e12b236ba2d80140b311f3d65fce0e3″] Membolehkan, kendatipun dengan melepas sanadnya dan tanpa menerangkan sebab-sebab kelemahannya, untuk memberi sugesti, menerangkan keutamaan amal (fadla’ilul a’mal  dan cerita-cerita, bukan untuk menetapkan hukum-hukum syariat, seperti halal dan haram, dan bukan untuk menetapkan aqidah-aqidah).

    Para imam seperti Ahmad bin hambal, Abdullah bin al Mubarak berkata:[tooltip id=”4a37031aeb58ce2f356b569b3bd618fb”][tooltip id=”8e12b236ba2d80140b311f3d65fce0e3″] Apabila kami meriwayatkan hadits tentang halal, haram dan hukum-hukum, kami perkeras sanadnya dan kami kritik rawi-rawinya. Tetapi bila kami meriwayatkan tentang keutamaan, pahala dan siksa kami permudah dan kami perlunak rawi-rawinya.”

    Karena itu, Ibnu Hajar Al Asqalany termasuk ahli hadits yang membolehkan berhujjah dengan hadits dhoif untuk fadla’ilul amal. Ia memberikan 3 syarat dalam hal meriwayatkan hadits dhoif, yaitu:

    1. Hadits dhoif itu tidak keterlaluan. Oleh karena itu, untuk hadits-hadits dhoif yang disebabkan rawinya pendusta, tertuduh dusta, dan banyak salah, tidak dapat dibuat hujjah kendatipun untuk fadla’ilul amal.
    2. Dasar amal yang ditunjuk oleh hadits dhoif tersebut, masih dibawah satu dasar yang dibenarkan oleh hadits yang dapat diamalkan (shahih dan hasan)
    3. Dalam mengamalkannya tidak mengitikadkan atau menekankan bahwa hadits tersebut benar-benar bersumber kepada nabi, tetapi tujuan mengamalkannya hanya semata mata untuk ikhtiyath (hati-hati) belaka.

    Semoga Bermanfaat[tooltip type=”box” html=”Input Your Content Here” box_background_color=”#eeeeee” box_opacity=”0.95″ box_padding=”10″ box_border_color=”#3F3F3F” box_border_width=”1″ box_border_radius=”0″ id=”4a37031aeb58ce2f356b569b3bd618fb” /]

    SILAHKAN KOMENTAR

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.